Pramoedya.id: Program Studi Kimia Fakultas Sains dan Teknologi (FST) Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung (UIN RIL) mulai menjalani asesmen lapangan akreditasi dari Lembaga Akreditasi Mandiri Sains Alam dan Ilmu Formal (LAMSAMA). Proses visitasi yang berlangsung selama dua hari, 13-14 April 2026 ini, merupakan tonggak penting bagi prodi yang baru seumur jagung tersebut.
Kegiatan dibuka langsung oleh Rektor UIN Raden Intan Lampung, Wan Jamaluddin, di Ruang Teater Gedung Academic & Research Center, Senin, 13 April 2026. Dalam sambutannya, ia menekankan bahwa akreditasi ini bukan sekadar rutinitas administratif, melainkan momentum untuk mendapatkan masukan konstruktif bagi pengembangan program studi. Wan Jamaluddin meminta tim asesor untuk tidak segan memberikan arahan, bahkan kritik, demi penyempurnaan ke depan.
Rektor juga mengklaim bahwa fasilitas laboratorium yang dimiliki Fakultas Saintek, termasuk Kimia, Fisika, dan Biologi, merupakan salah satu yang terbaik. Investasi pada sarana prasarana ini diharapkan mampu mencetak ahli kimia yang kompetitif di level nasional. Ia juga menceritakan perjalanan panjang pembangunan Fakultas Saintek yang melibatkan kerja sama internasional dengan Tomsk State University, Rusia. Kolaborasi ini menghasilkan hibah kompetitif penelitian sebesar 60 ribu rubel atau setara Rp6 miliar. Tak hanya itu, eksistensi Prodi Kimia disebut menjadi tulang punggung dalam persiapan berdirinya Fakultas Kedokteran di kampus tersebut.
Dekan FST UIN Raden Intan, Sovia, menjelaskan bahwa Prodi Kimia saat ini baru berusia sekitar satu tahun enam bulan. Sebelumnya, prodi ini bernaung di bawah Fakultas Tarbiyah dan Keguruan sebelum akhirnya resmi bergabung ke FST pada Juli 2025.
Menurut Sovia, kehadiran FST merupakan bagian dari peta jalan (roadmap) tahap ketiga pengembangan universitas menuju internasionalisasi. Strategi percepatan pun dilakukan, mulai dari penyusunan Rencana Strategis (Renstra) hingga penerapan kurikulum berbasis Outcome Based Education (OBE).
FST juga telah menyusun SOP pelayanan laboratorium dan menindaklanjuti kerja sama dengan Tomsk State University melalui uji coba biocide yang saat ini masih berlangsung di berbagai media, seperti laut hingga cat tembok rumah sakit. Sovia menyatakan optimismenya bahwa seluruh langkah ini akan memotivasi sivitas akademika di lingkungan Saintek.
Tim asesor yang ditugaskan LAMSAMA terdiri dari Ratnaningsih Eko Sardjono dari Universitas Pendidikan Indonesia dan Jarnuzi Gunlazuardi dari Universitas Indonesia. Dalam pandangan Ratnaningsih, Prodi Kimia UIN Raden Intan menunjukkan progres yang signifikan meski secara usia masih sangat muda. Ia mengibaratkan prodi ini sebagai bayi yang baru lahir namun tumbuh pesat karena dukungan luar biasa dari jajaran universitas.
Meski terkesan dengan fasilitas laboratorium yang dinilai lengkap dan modern melalui tayangan profil video, Ratnaningsih mengingatkan bahwa pengembangan pendidikan sains tetap memerlukan dukungan berkelanjutan dari berbagai pihak. Kehadiran tim asesor, menurutnya, adalah untuk memastikan amanah LAMSAMA dalam mengawal kualitas pendidikan sains tetap terjaga agar prodi ini terus berkembang di masa depan. (*)







