Pramoedya.id: Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung (UIN RIL) tidak sekadar membuka posko mudik. Kampus ini mencoba memperluas perannya—dari institusi pendidikan menjadi aktor sosial dengan meresmikan Posko Masjid Ramah Pemudik di Masjid Raya Airan, Rabu (18/03/2026).
Peresmian dilakukan langsung oleh Rektor Wan Jamaluddin bersama jajaran pimpinan. Namun, langkah ini bukan sekadar kegiatan seremonial tahunan. Ada upaya mendorong perubahan cara pandang: bahwa kampus keagamaan harus hadir langsung di tengah problem sosial, termasuk fenomena mudik.
Dalam sambutannya, rektor menyinggung bahwa program serupa sebenarnya sudah digagas sebelumnya oleh Kementerian Agama. Namun, tahun ini pendekatannya diperluas dengan melibatkan institusi pendidikan keagamaan secara lebih aktif.
“Gerakan ini juga menyasar lembaga madrasah, pondok pesantren, dan lainnya. Semuanya menunjukkan kepedulian terhadap momentum mudik yang terjadi di tanah air,” ujarnya.
Bagi UIN RIL, keterlibatan ini menjadi bagian dari mandat pengabdian kepada masyarakat. Mudik dipandang bukan sekadar tradisi tahunan, tetapi peristiwa nasional yang membutuhkan kehadiran banyak pihak, termasuk kampus.
“Program mudik bukan hanya menjadi urusan instansi tertentu, tetapi merupakan hajat seluruh bangsa Indonesia,” kata dia.
Posko yang dibangun di Masjid Raya Airan menjadi bentuk konkret dari gagasan tersebut. Kampus menghadirkan berbagai layanan: tenaga kesehatan dari Klinik Pratama, layanan keagamaan, hingga pusat informasi.
Fasilitas yang disediakan pun cukup lengkap. Mulai dari tempat istirahat, toilet bersih, tempat wudu dan mandi, hingga takjil gratis dan makanan. Bahkan, posko ini juga menyediakan layanan pengisian daya telepon genggam.
Namun, kehadiran layanan Penerimaan Mahasiswa Baru di dalam posko juga menandakan hal lain: pengabdian dan kepentingan institusional berjalan beriringan.
Ketua LP2M UIN RIL, Ali Abdul Wakhid, menyebut posko ini akan beroperasi selama periode mudik, 18 hingga 27 Maret 2026.
“Masjid tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai pusat pelayanan masyarakat,” ujarnya.
Peresmian posko turut diisi dengan penyerahan bantuan karpet masjid, pembagian takjil, serta peninjauan langsung oleh pimpinan kampus.
Di tengah arus jutaan pemudik, langkah UIN RIL ini memperlihatkan satu hal: kampus tidak lagi cukup berada di ruang kelas. Ia dituntut hadir di jalan—di titik-titik di mana masyarakat benar-benar membutuhkan. (*)







