Pramoedya.id: Iran tengah menghadapi krisis moneter paling parah dalam sejarah modernnya. Nilai tukar mata uang nasional, rial, terus merosot tajam hingga menembus rekor terendah, memicu lonjakan harga kebutuhan pokok, guncangan di sektor perbankan, serta gelombang protes di berbagai kota, Kamis (15/1/2026).
Di pasar bebas, satu dolar Amerika Serikat kini setara lebih dari satu juta rial. Pelemahan ekstrem ini membuat daya beli masyarakat runtuh. Harga bahan pangan, obat-obatan, dan barang impor melonjak drastis, sementara pendapatan warga nyaris tidak bergerak. Bagi banyak keluarga kelas pekerja, kondisi ini berarti bertahan hidup dari hari ke hari.
Krisis nilai tukar tersebut memperparah inflasi yang sudah lama membelit Iran. Tingkat inflasi tahunan diperkirakan berada di atas 40 persen, dengan kenaikan harga pangan jauh lebih tinggi. Pedagang di pasar tradisional mengeluhkan biaya modal yang tak lagi masuk akal, sementara konsumen semakin jarang berbelanja.
Tekanan ekonomi ini tidak datang tiba-tiba. Sanksi internasional yang kembali diperketat dalam beberapa tahun terakhir telah membatasi ekspor minyak Iran dan menutup aksesnya ke sistem keuangan global. Di saat yang sama, defisit anggaran kronis dan pencetakan uang untuk menutup belanja negara mempercepat kejatuhan nilai rial.
Kebijakan pemerintah yang menghapus nilai tukar preferensial untuk impor juga ikut mengguncang pasar. Langkah tersebut dimaksudkan untuk menekan korupsi dan praktik rente, namun justru memicu kepanikan karena harga barang impor langsung melonjak. Banyak pelaku usaha kecil tak sanggup lagi menyesuaikan diri.
Krisis ini merembet ke sektor perbankan. Sejumlah bank dilaporkan mengalami tekanan likuiditas akibat kredit macet dan kepercayaan publik yang terus menurun. Warga berbondong-bondong menarik tabungan atau mengalihkannya ke emas dan mata uang asing, memperparah instabilitas sistem keuangan.
Dampak sosial pun tak terhindarkan. Protes bermula dari kawasan pasar dan pusat ekonomi di Teheran, lalu menyebar ke puluhan bahkan ratusan kota lain. Pedagang, buruh, dan warga kelas menengah turun ke jalan menuntut perbaikan ekonomi dan perubahan kebijakan. Aparat keamanan merespons dengan pembatasan internet dan pengetatan pengamanan di sejumlah wilayah.
Pemerintah Iran berulang kali menyatakan akan menindak spekulan dan penimbun barang, serta menjanjikan langkah-langkah stabilisasi. Namun hingga kini, kepercayaan publik belum pulih. Banyak warga menilai krisis ini bukan semata soal mata uang, melainkan akumulasi dari masalah struktural yang sudah lama diabaikan.
Krisis moneter Iran juga berdampak ke kawasan. Melemahnya daya beli warga Iran memukul sektor pariwisata religi di negara tetangga seperti Irak, sementara ketidakstabilan ekonomi Iran menambah ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Dengan nilai mata uang yang terus terjun dan tekanan sosial yang kian besar, Iran kini berada di persimpangan sulit. Tanpa perbaikan ekonomi yang nyata dan solusi struktural, krisis moneter ini berpotensi berubah menjadi krisis politik yang lebih dalam.(*)







