Kereta Gantung Bandar Lampung: Ketika Ambisi Mengabaikan Realitas Sosial

- Editor

Selasa, 27 Mei 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Muhammad Kamal, Presiden Mahasiswa Universitas Malahayati (Unmal)

Muhammad Kamal, Presiden Mahasiswa Universitas Malahayati (Unmal)

Oleh: Muhammad Kamal, Presiden Mahasiswa Universitas Malahayati (Unmal)

Pramoedya.id: Rencana pembangunan kereta gantung oleh Pemerintah Kota Bandar Lampung menjadi ironi dalam konteks pembangunan kota yang berkeadilan. Di atas kertas, proyek ini terdengar futuristik, transportasi modern, daya tarik wisata, bahkan simbol kemajuan kota.

Namun, ketika kita letakkan gagasan ini di tengah realitas sosial-ekonomi warga Bandar Lampung, proyek ini justru tampak seperti kilau kaca yang menutupi dinding retak.

Pembangunan atau Ilusi?

Pembangunan seharusnya menjawab masalah, bukan menciptakan ilusi. Sayangnya, kereta gantung ini tampak lebih sebagai proyek prestisius ketimbang solusi strategis.

Di tengah kota yang masih berjibaku dengan kemacetan kronis, sistem drainase yang buruk, hingga rendahnya akses warga miskin terhadap layanan kesehatan dan pendidikan, pilihan untuk membangun kereta gantung terasa tak relevan.

Pembangunan yang Tidak Inklusif

Infrastruktur semestinya inklusif dibangun dengan mempertimbangkan siapa yang paling membutuhkan, bukan siapa yang paling bisa membayar. Pembangunan yang baik tidak diukur dari megahnya proyek, melainkan dari seberapa besar ia menjawab ketimpangan.

Saat warga masih antre air bersih, hidup di kawasan tanpa sanitasi layak, atau bersekolah di bangunan semi permanen, masih merasakan banjir, maka proyek seperti kereta gantung adalah cermin dari pembangunan yang gagal mengenali urgensinya sendiri.

Alternatif dan Jalan Tengah

Bandar Lampung tidak kekurangan potensi, tapi kekurangan keberpihakan dalam prioritas anggaran. Daripada membangun kereta gantung, mengapa tidak memperkuat transportasi publik konvensional? Mengapa tidak menyelesaikan dahulu persoalan banjir dan sampah, atau menata ulang kawasan kumuh menjadi permukiman sehat?

Pemerintah kota seharusnya mendahulukan program-program yang langsung menyentuh keseharian rakyat, bukan memburu proyek yang hanya menambah daftar panjang pembangunan simbolik.

Mahasiswa dan Publik Harus Mengawal

Sebagai mahasiswa, kami bukan anti pembangunan. Tapi kami menolak pembangunan yang kehilangan orientasi sosialnya. Kami tidak ingin Bandar Lampung menjadi kota penuh proyek, tapi kosong dari keadilan.

Sudah saatnya masyarakat, khususnya kaum muda dan mahasiswa, membuka ruang diskusi dan kontrol atas kebijakan publik. Pembangunan tidak boleh menjadi wilayah eksklusif elit pemerintahan. Ia harus dikembalikan ke tangan rakyat sebagai subjek, bukan objek.

Bandar Lampung tidak butuh kereta gantung, yang dibutuhkan adalah keberanian untuk membangun kota dengan keberpihakan, keberlanjutan, dan kejujuran. (*)

Berita Terkait

Negara Restui Petani Way Kanan Jadi Tumbal
Tradisi Lebaran Empat Kampung Di Ranau Masih Terawat
Mimpi Indonesia Emas Terancam Blank Spot
Dari Pilkada Langsung Ke Kontrol Elit : Power Continuity dan Kemunduran Demokrasi Lokal
Pilkada Lewat DPRD: Kemunduran Demokrasi dan Hilangnya Mandat Rakyat
Peta Jalan Pendidikan Islam dan Desain Masa Depan Peradaban  
Republik di Atas Meja Negosiasi: Siapa Menjual, Siapa Membeli Keadilan?
Mengapa Kita Perlu ‘Gaya’ Kang Dedy?

Berita Terkait

Sabtu, 4 April 2026 - 20:02 WIB

Negara Restui Petani Way Kanan Jadi Tumbal

Sabtu, 21 Maret 2026 - 10:09 WIB

Tradisi Lebaran Empat Kampung Di Ranau Masih Terawat

Kamis, 29 Januari 2026 - 16:38 WIB

Mimpi Indonesia Emas Terancam Blank Spot

Selasa, 13 Januari 2026 - 01:01 WIB

Dari Pilkada Langsung Ke Kontrol Elit : Power Continuity dan Kemunduran Demokrasi Lokal

Jumat, 2 Januari 2026 - 21:02 WIB

Pilkada Lewat DPRD: Kemunduran Demokrasi dan Hilangnya Mandat Rakyat

Berita Terbaru

Kolom

Negara Restui Petani Way Kanan Jadi Tumbal

Sabtu, 4 Apr 2026 - 20:02 WIB

Pendidikan

Mahasiswi FEB Unila Raih Juara 1 PILMAPRES Diploma 2026

Sabtu, 4 Apr 2026 - 19:28 WIB