Pramoedya.id: Di balik kemudahan transaksi digital yang kian masif, ancaman kejahatan siber terus mengintai dengan modus yang semakin subtil. Salah satu yang kini menjadi sorotan BRI Region 5 Bandar Lampung adalah typosquatting, sebuah teknik penipuan yang memanfaatkan kelengahan pengguna internet saat mengetik alamat situs resmi.
Modus ini bekerja dengan cara yang sangat sederhana namun mematikan: pelaku membuat alamat situs palsu yang nyaris identik dengan aslinya, hanya dengan mengubah atau menambahkan satu huruf. Bagi pengguna yang sedang terburu-buru, perbedaan kecil ini sering kali luput dari pengamatan.
Begitu terjebak masuk ke dalam tautan palsu tersebut, nasabah akan diarahkan ke halaman tiruan yang dirancang sedemikian rupa untuk menjaring data pribadi sensitif. Mulai dari username, kata sandi, PIN, hingga kode OTP, semuanya menjadi sasaran empuk untuk membobol akses finansial korban
Melihat tren ini, Regional CEO BRI Region 5 Bandar Lampung, Andreas Chandra Santoso, bergerak cepat dengan mengintensifkan edukasi literasi digital. Ia menegaskan bahwa keamanan di ruang siber bukan hanya soal sistem perbankan yang kokoh, melainkan juga soal ketelitian nasabah sebagai garda terdepan.
“Kami tidak pernah meminta data rahasia nasabah melalui tautan tidak resmi, pesan singkat, apalagi media sosial,” ujar Andreas dalam keterangan resminya., Kamis (19/2/2026). Ia mengimbau masyarakat untuk selalu melakukan verifikasi mandiri sebelum melakukan transaksi apa pun di internet.
Langkah mitigasi yang dilakukan BRI Lampung pun kini meluas, mulai dari kampanye masif di media sosial resmi, pemasangan media edukasi di kantor layanan, hingga sosialisasi langsung ke komunitas-komunitas nasabah. Tujuannya satu: menumbuhkan kesadaran bahwa satu kesalahan ketik bisa berdampak fatal pada keamanan data finansial.
Andreas juga membagikan resep sederhana untuk menangkal serangan ini. Selain mengecek kembali ejaan alamat situs, nasabah sangat disarankan untuk tidak sembarangan mengklik tautan dari sumber yang tidak dikenal dan selalu mengaktifkan fitur verifikasi dua langkah sebagai lapis keamanan tambahan.
“Harapan kami, melalui edukasi yang berkelanjutan ini, nasabah semakin cerdas dan teliti. Keamanan data pribadi dan finansial adalah prioritas kita bersama di tengah pesatnya digitalisasi ini,” tutur Andreas.
Bagi nasabah yang menemukan indikasi penipuan atau tautan mencurigakan yang mengatasnamakan perbankan, BRI meminta agar segera melapor melalui kanal resmi untuk segera ditindaklanjuti. (*)







