Pramoedya.id: Mimpi ratusan siswa dari keluarga tidak mampu di Bandar Lampung untuk mengenyam pendidikan menengah gratis kini berujung nestapa.
Program SMA Siger yang digadang-gadang Wali Kota Eva Dwiana sebagai solusi pendidikan unggulan justru terjerat pusaran dugaan maladministrasi, anggaran “siluman”, hingga ancaman ijazah palsu.
Penelusuran Pramoedya.id mengungkap bahwa SMA Siger saat ini menyandang status “gaib” dalam sistem negara. Meski aktivitas belajar mengajar telah berjalan satu semester, sekolah ini tidak terdaftar dalam Data Pokok Pendidikan (Dapodik).
Implikasinya fatal lantaran siswa tidak bisa mengakses bantuan sosial seperti Program Indonesia Pintar (PIP) dan terancam tidak memiliki ijazah yang diakui negara.
Awalnya, SMA Siger dipromosikan bak mukjizat bagi warga miskin. Eva Dwiana menjanjikan fasilitas eks terminal Panjang sebagai gedung sekolah dan beasiswa ke universitas negeri ternama seperti Unila dan UIN.
Realitanya jauh panggang dari api. Para siswa kini terkatung-katung menumpang di salah satu SMP negeri dengan durasi belajar hanya empat jam sehari.
“Guru-guru jarang masuk karena gajinya telat. Kalau sudah begini, anak-anak kami mau jadi apa,” keluh salah satu orang tua siswa yang identitas tidak ingin disebut kepada Pramoedya.id ketika dihubungin melalui telepon WhatsApp, Jumat ( 23/1/2026).
Orang tua yang mengeluh tersebut merupakan warga tidak mampu yang memiliki pekerjaan sebagai tukang bangunan. Niatnya membangun masa depan anaknya malahan runtuh karena eksperimen Pemkot Bandar Lampung lewat yayasan Siger Prakarsa Bunda.
Nasib siswa kian terjepit. Keinginan orang tua untuk memindahkan anaknya ke sekolah lain terbentur tembok birokrasi. Karena tidak terdaftar di Dapodik selama satu semester, siswa tidak memiliki rekam jejak akademik untuk mutasi. Mereka tersandera di sekolah yang izin operasionalnya pun hingga kini belum menunjukkan kemajuan di Dinas Pendidikan Provinsi Lampung.
“Kami para orang tua sebenarnya ingin memindahkan anak kami di sekolah lain. Tetapi ternyata selama satu semester mereka tidak terdaftar,” kata orang tua itu lagi.
Sementara itu, orang tua yang lain yang berprofesi sebagai nelayan mengeluhkan hal serupa. Bagi seorang nelayan di pesisir Bandar Lampung, SMA Siger semula adalah pelampung harapan.
Ia menyekolahkan anaknya di sana bukan sekadar mencari sekolah gratis, melainkan mengejar janji Wali Kota Eva Dwiana tentang fasilitas gedung eks Terminal Panjang dan beasiswa masuk universitas negeri (Unila dan UIN).
Namun, pelampung itu kini bocor. “Saya kecewa. Harapan saya anak saya harus lebih dari saya. Saya kira ini solusi, ternyata malah membuat masa depan anak saya terancam,” kata dia yang namanya tak ingin disebut juga.
Diberitakan sebelumnya, aroma Korupsi di Balik Dana “Siluman”
Polemik SMA Siger tidak hanya soal administrasi, tapi juga dugaan penyimpangan anggaran yang mengarah pada tindak koruptif.
Kepala Ombudsman RI Perwakilan Lampung, Nur Rakhman Yusuf, memberikan peringatan keras. Ia mempertanyakan sumber pendanaan operasional sekolah, mengingat DPRD Bandar Lampung telah mencoret usulan hibah untuk sekolah tersebut.
“Ini ilegal, tidak tercatat di negara. Jika anggaran resminya tidak ada, lalu mereka digaji pakai uang mana,” tegas Nur Rakhman.
Ditemukan pula aliran dana sekitar Rp700 juta yang digelontorkan Pemkot secara senyap pada semester pertama 2025 tanpa persetujuan DPRD.
Ketua Komisi IV DPRD Bandar Lampung, Asroni Paslah, berang. Ia menyebut legislatif dilangkahi dalam proses anggaran tersebut.
“Untuk 2026 sudah tegas kami coret. Tapi yang 2025, Dewan tidak mengetahui. Kami tidak diajak bicara,” kata Asroni.
Ketidakberesan kian tampak pada sistem penggajian. Meski dana ratusan juta disebut telah cair, para guru mengaku hanya menerima upah “receh” berkisar Rp200 ribu hingga Rp300 ribu per bulan.
Pembayaran dilakukan secara manual, sebuah praktik yang sangat rentan terhadap manipulasi pertanggungjawaban keuangan daerah.
Kepala Dinas Pendidikan Bandar Lampung sekaligus Pembina Yayasan,Eka Afriana, berdalih bahwa hak guru tahun 2025 telah dibayarkan.
Namun, pengakuan ini kontras dengan jeritan guru di lapangan dan peringatan dari Dinas Pendidikan Provinsi Lampung bahwa sekolah ini tetap tidak berprogres dalam perizinan sejak Agustus tahun lalu.
Kini, nasib ratusan siswa SMA Siger berada di ujung tanduk. Alih-alih menjadi jembatan menuju kesuksesan, sekolah besutan Eva Dwiana ini justru berisiko menjadi “kuburan” bagi masa depan anak-anak dari keluarga dan warga tak mampu di Bandar Lampung.
Polemik tersebut pun tak khayal membuat Dema FDIK UIN RIL turut naik pitam melihat tingkah Pemkot Bandar Lampung yang bereksperimen dengan warga miskin.
Menurutnya, itu adalah penghinaan terhadap intelektual anak bangsa yang dilakukan secara sistematis oleh birokrasi kota.
Oleh sebab itu ia akan melakukan penelusuran mendalam untuk melakukan aksi massa besar-besaran.
“Kita akan buat dialog dengan para pelajar kemudian setelah itu akan buat Demo besar,” tutupnya. (*)







