Pramoedya.id: Kebijakan pendidikan Pemerintah Kota (Pemkot) Bandar Lampung dihantam kritik pedas. Proyek berlabel “Sekolah Siger” yang selama ini dipamerkan ke publik dituding tak lebih dari sekadar proyek “kosmetik” untuk menutupi bobroknya kualitas pendidikan di Kota Tapis Berseri.
Ketua Dema FDIK UIN RIL, Muhammad Ibrohim, naik pitam melihat kondisi di lapangan di mana jam belajar siswa dilaporkan disunat hingga tersisa hanya empat jam. Menurutnya, itu adalah penghinaan terhadap intelektual anak bangsa yang dilakukan secara sistematis oleh birokrasi kota.
“Belajar cuma empat jam itu bukan sekolah, itu sekadar mampir, Pemkot Bandar Lampung jangan hanya sibuk memoles tampilan luar tapi membiarkan substansi pendidikan mati suri,” kata Muhammad Ibrohim, Kamis (22/1/2026).
Ibrohim menegaskan bahwa Dema FDIK saat ini tengah membedah seluruh borok yang ada di balik proyek Sekolah Siger. Ia menduga ada skenario besar di mana anggaran pendidikan yang harusnya untuk kesejahteraan siswa dan guru, justru dialokasikan ke proyek fisik yang tidak memiliki urgensi hukum yang jelas.
“Kami sedang kaji secara mendalam. Kami telusuri dari mana duitnya, apa dasar hukumnya, sampai siapa yang diuntungkan di sini. Masalah jam belajar yang dipangkas ini hanya puncak gunung es dari manajemen pendidikan yang ugal-ugalan di Bandar Lampung. Jangan jadikan sekolah sebagai ladang proyek apalagi hanya untuk nafsu politik belaka,” tegasnya.
Bagi Ibrohim, alasan apapun yang dikeluarkan Pemkot Bandar Lampung soal pemangkasan jam belajar adalah bentuk kegagalan yang tidak bisa ditoleransi. Ia menilai pendidikan di kota ini sedang dikelola oleh orang-orang yang tidak mengerti skala prioritas.
Selain itu Boim menilai Pemkot sedang memainkan nasib orang miskin dibumi ruwa jurai.
“Mereka sedang memainkan hak pendidikan semua orang lewat yayasan Siger Bunda Prakarsa. Dari awal sudah penuh polemik,” kata Boim menilai.
Muhammad Ibrohim memastikan bahwa hasil kajian timnyanya akan segera diledakkan dalam bentuk aksi massa di depan kantor wali kota. Tidak tanggung-tanggung, ia mengancam akan membawa gelombang massa yang sangat besar.
“Satu kata, lawan! Jika Pemkot tetap bebal dan tidak segera mengembalikan jam belajar normal serta mentransparansikan proyek Sekolah Siger ini, kami akan lumpuhkan jalanan. Dema FDIK akan pimpin demo besar-besaran. Kami akan kepung kantor wali kota dengan massa yang besar,”” ancam Ibrohim.
Ia menegaskan bahwa gerakan ini tidak akan bisa dibungkam oleh siapapun.
“Pendidikan itu hak rakyat, bukan barang dagangan birokrat. Kami pastikan Pemkot Bandar Lampung tidak akan tidur nyenyak sebelum persoalan ini tuntas di meja rakyat,” tutupnya. (*)







