Jumbo dan Mimpi Indonesia untuk Tidak Sekadar Jadi Penonton

- Editor

Sabtu, 12 April 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Poster animasi Jumbo. sumber: IG: Official Account JUMBO Film

Poster animasi Jumbo. sumber: IG: Official Account JUMBO Film

Pramoedya.id: Ada satu momen yang membekas dari film Jumbo. Seorang bocah bernama Don berdiri di panggung, menggenggam wayang, dan menyuarakan mimpinya: ingin jadi dalang. Bukan dalang politik seperti yang biasa kita baca di koran, tapi dalang sungguhan, penerus seni pertunjukan yang perlahan hilang ditelan zaman.

Dan anehnya, di tengah gegap gempita visual dan efek CGI, justru momen itu yang bikin penonton diam. Karena di situlah Jumbo berdiri bukan cuma sebagai film animasi anak-anak, tapi sebagai representasi diam-diam dari kita semua bahwa bangsa yang lama jadi penonton, akhirnya belajar untuk bicara.

Dirilis pada awal 2025, Jumbo adalah film animasi panjang produksi Visinema Studios yang disutradarai oleh Ryan Adriandhy dan ditulis oleh Widya Arifianti. Per 12 April 2025, film ini telah menembus 2,5 juta penonton hanya dalam waktu kurang dua mingguan. Bahkan media luar seperti Cartoon Brew menyebutnya sebagai “sebuah langkah penting bagi Asia Tenggara di kancah animasi dunia.” Tak tanggung-tanggung, Jumbo dijadwalkan tayang di 17 negara.

Tapi bukan hanya jumlah penonton yang bikin film ini layak dirayakan. Di balik layar, Jumbo melibatkan lebih dari 400 seniman animasi lokal. Semua proses kreatif, termasuk rendering, dikerjakan di Indonesia tanpa outsourcing ke India, Korea, Jepang, atau negara lain seperti kebiasaan industri film animasi Asia Tenggara selama ini.

Ini penting. Karena selama bertahun-tahun, industri animasi Indonesia seperti hidup segan, mati tak sempat. Pada 2011, misalnya, ada Battle of Surabaya yang sempat jadi pembicaraan tapi gagal jadi gerakan. Lalu ada juga Knight Kris (2017), Si Juki The Movie (2017), dan Nussa (2021), yang masing-masing mencoba peruntungan di layar lebar, tapi tak kunjung melahirkan ekosistem industri yang kuat.

Sementara itu, Malaysia lewat Upin & Ipin konsisten mengekspor budaya lokalnya ke 14 negara sejak 2007. Bahkan di puncaknya, mereka bisa menghasilkan pendapatan tahunan sekitar RM 26 juta (setara Rp87 miliar) hanya dari penjualan lisensi. Animasi itu pula yang membuat anak-anak Indonesia lebih akrab dengan kata “betul-betul” daripada “iya.”

Tentu, Jumbo tak bisa disamakan dengan Upin & Ipin. Yang satu serial TV, yang satu film bioskop. Tapi keduanya membuktikan satu hal: animasi bisa jadi kendaraan budaya yang kuat, jika dirawat dan ditonton dengan serius.

Yang bikin Jumbo terasa “Indonesia banget” adalah keberaniannya menampilkan hal-hal yang sering dianggap kuno. Wayang, seni pedalangan, anak kampung dengan mimpi nyeleneh, dan relasi keluarga yang hangat tapi rumit. Tapi ia mengemas semuanya dengan cara yang modern, lucu, dan tidak menggurui. Ini bukan animasi dakwah, bukan pula tontonan tempelan nilai. Ia hidup sebagai cerita.

Dan jangan salah, ini bukan proyek sembarangan. Nama-nama besar seperti Bunga Citra Lestari, Ariel NOAH, Prince Poetiray, dan Angga Yunanda ikut mengisi suara. Musiknya digarap oleh Andhika Triyadi dan visualnya penuh detail. Bahkan dari segi kualitas, ia sudah cukup layak bersanding dengan produksi studio-studio besar Asia.

Tentu saja ini belum akhir. Kita masih perlu banyak hal untuk membuat animasi Indonesia bisa bersaing: pendidikan animasi yang terjangkau dan mutakhir, insentif bagi studio kecil, distribusi yang merata, dan yang paling penting penonton yang menghargai karya lokal.

Kalau tidak, Jumbo bisa saja jadi bintang jatuh. Bersinar sebentar lalu hilang tanpa jejak.

Padahal kita punya potensi besar. Lihat saja Tahi Lalats, animasi pendek absurd yang lahir dari Instagram dan sekarang jadi rujukan selera humor anak muda urban. Ia tak punya layar bioskop, tapi punya suara. Ia bukti bahwa animasi lokal bisa hidup di mana saja, asal punya nyawa.

Mungkin ini saatnya Indonesia berhenti menjadi penonton. Kita tidak kekurangan cerita. Kita cuma butuh lebih banyak keberanian seperti yang dilakukan oleh tim Jumbo yang berani tampil, berani gagal, dan berani percaya bahwa mimpi anak-anak kampung bisa sampai ke layar dunia.

Sekarang tinggal tinggal kita dukung untuk menonton, dan pemerintah juga harus melibatkan SDM asli Indonesia yang mampu membuat animasi untuk berperan. Bukan malah sedikit-sedikit mengandalkan AI. Upss. (*)

Berita Terkait

MBG, Posisi dan Persepsi: Ketika Pertanyaan Dibalas Tepuk Tangan
Di Balik Diabaikannya Kritik Kelas Menengah
HIPMI dan Ilusi Pengusaha Mandiri
Prabowo dan Warisan yang Dibaca Terbalik
Ketika Ahli Serangga Jadi Hama MBG
Andi Warisno dan Semesta Multiverse Pendidikan Tinggi
Prabowo Memfitnah Ratusan Juta Rakyat Indonesia
Belum Lama ‘Tantrum’, Dinas PU Seret Nama Eva Dwiana ke Kejagung

Berita Terkait

Senin, 22 Juni 2026 - 16:34 WIB

MBG, Posisi dan Persepsi: Ketika Pertanyaan Dibalas Tepuk Tangan

Rabu, 17 Juni 2026 - 17:07 WIB

Di Balik Diabaikannya Kritik Kelas Menengah

Rabu, 10 Juni 2026 - 16:51 WIB

HIPMI dan Ilusi Pengusaha Mandiri

Senin, 8 Juni 2026 - 13:32 WIB

Prabowo dan Warisan yang Dibaca Terbalik

Kamis, 4 Juni 2026 - 17:35 WIB

Ketika Ahli Serangga Jadi Hama MBG

Berita Terbaru

Ketua DPD Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Kabupaten Pringsewu, Rusdianto, ketika diwawancarai.

Pringsewu

Jokowi ke Pringsewu, PSI Sebut Dongkrak Elektabilitas Partai

Sabtu, 27 Jun 2026 - 15:17 WIB

Lampung

Kemenag Bandar Lampung Santuni Ratusan Anak Yatim

Kamis, 25 Jun 2026 - 17:07 WIB

Lampung

PCNU dan Pemuda Katolik Sepakat Lawan Kekerasan Seksual

Rabu, 24 Jun 2026 - 19:57 WIB